VanBumen Explore

Menu

Tulisan Juga Memerlukan Nyawa

Saat menulis kata-kata pertama pada layar laptop dalam tulisan ini, saya tidak sedang mendapat ide apa yang akan dituliskan. Ingin meningkatkan pertanyaan tentang tradisi yang biasanya menjadi favorit saya, kali ini ide itu menjadi kering. Terpaksa mencari topik yang akan dibahas, jadi menulis sendiri yang kemudian tulisan ini yang kering dengan sendirinya. Ingat! Bahwa tulisan juga memerlukan nyawa.

Namun, maka terpikir untuk tetap menulis meskipun kemungkinan akan merasa “kering”, lebih karena alasan-alasan yang bisa dikatakan sengaja dicari. Bahwa tulisan-tulisan kering apapun baik. Lagi pula, jika itu adalah kiasan untuk makanan kering, jika dikonsumsi akan mengundang rasa haus. Nah, jika telah timbul rasa haus cenderung membuat orang-orang untuk bergerak. Tentu bergerak untuk menemukan sesuatu yang bisa menjawab haus, yaitu air.

Menulis, bagi saya untuk memindahkan/menggerakkan. Penulisan bisa dikatakan gagal ketika tidak bisa menggerakkan. Satu hari di dalamnya bergerak untuk berpikir.

Sebagian orang, dengan tulisan yang ia tulis akan menggerakkan mereka yang membaca untuk bertindak. Sebagian lainnya, menggugah mereka yang membaca untuk berpikir. Tentu saja, ketika secara seimbang menggerakkan orang untuk bertindak dan berpikir akan sangat ideal. Sayangnya, tidak sedikit orang yang merasa sebagai penulis, bahkan untuk menggerakkan diri sendiri saja tidak mampu. Anggap saja sindiran ini saya tujukan untuk diri saya sendiri saja.

Tapi, saya mencoba untuk kembali ke masalah tulisan yang dapat menggerakkan. Tiba-tiba saja pikir saya tergerak untuk melihat karakteristik dari makhluk hidup. Karena apa yang hidup cenderung memiliki karakterisitik bergerak. Dia juga mampu menggerakkan. Dalam hal ini, suatu tulisan yang memiliki nyawa, idealnya juga mampu untuk menggerakkan. Jika tidak, kemungkinan bahwa orang yang melakukan pekerjaan tulis-menulis itu dalam keadaan yang tidak bernyawa juga, itu terlalu mengada-mengada.

Saya sendiri, saat membaca berbagai tulisan, sering tidak sangat peduli seberapa baik tulisan atau buku menurut banyak orang-orang. Namun, cobalah satu atau dua halaman secara acak, jika tidak, tinggalkan saja. Karena, sebuah tulisan adalah seperti sungai dan air. Menyentuh dari sisi mana saja di sebuah sungai, pasti akan tetap saja basah. Jika tidak, kemungkin itu bukanlah sebuah ‘Sungai’.

Ketika aku menulis, terlepas memang tidak semua posting saya muncul di media-media yang besar, saya juga punya konsep pribadi. Mencoba menulis bagaikan sebuah air, mencoba tidak terlalu berlebihan agar tidak meluap. Karena, lagi-lagi seperti air, ketika air meluap, akan hanya membawa kematian ketika luapan itu menjadi banjir. Jadi, saya pikir menulis itu harus atau dan ada ukurannya.

Lalu bagaimana cara untuk menyimpulkan postingan ini? Ya, saya kira itu adalah seperti segelas air. Jika Anda haus dan tidak ada keraguan atas apakah airnya steril atau tidak, gunakannlah untuk minum. Jika tidak diperlukan, silakan gunakan untuk mencuci/membasuh wajah Anda.

Please rate this

Categories:   Umum

Comments on Tulisan Juga Memerlukan Nyawa