VanBumen Explore

Menu

Diam Itu Seperti Charlie Chaplin

Diam Itu Seperti Charlie Chaplin

Diam Itu… kan biasanya Emas?!

Ya… ya… ya… Diam Itu Emas. Itu pepatah populernya. Tapi saya tidak sedang akan membahas ‘diam itu emas’, dan pasti sudah banyak yang tahu maksud pepatah itu.

Diam Itu Seperti Charlie Chaplin? Ana-ana bae!

He… he… he… Suka-suka ‘penulis’ donk… Opss… maksud saya ‘penceloteh’. Memang, kali ini saya sedang terinspirasi cara diamnya Charlie Chaplin. Mending langsung saya celotehkan saja pada kawan-kawan VanBumen cerita berikut:

Ada satu lokasi di mana seorang penjual mie ayam biasa mangkal. Bukan di sebuah bangunan kios atau warung. Di pinggir jalan komplek, bersebelahan persis dengan satu poskamling. Poskamling itu rupanya menguntungkan si penjual. Tak perlu menyewa kios ataupun warung, pelanggannya bisa tetap nyaman menyantap mie ayam sembari duduk lesehan di sana.

Si penjual mie ayam, Pak Sukir, demikian nama kondangnya di seantero komplek. Nama kondang, karena saya belum cukup alasan untuk tahu detail kartu identitas resminya. Dua tahun kira-kira gerobak mie ayamnya didisplay dengan strategis di sana, kira-kira mulai jam 11 siang setiap harinya.

Suatu hari sebelum jam 11, entah dari mana, hadirlah satu gerobak mie ayam asing. Gerobak yang sama sekali berbeda dengan yang saya kenal, mangkal persis di lokasi jualan Pak Sukir. Sepertinya pemilik gerobak belum tahu-menahu soal lokasi yang ditempatinya adalah ladang orang. Tentu wajar dengan santai saja dia melanjutkan pendudukannya.

Menuju jam 11, Pak Sukir dengan gerobak mie ayamnya meluncur perlahan mendekati peraduan rejekinya. Tak perlu waktu lama buat kedua profesional mie ayam di sana saling pandang dari jarak agak jauh, dengan raut wajah yang sama-sama heran dan penuh tanya.

Melihat situasi ladang jualannya diduduki orang tak dikenal, Pak Sukir melabuhkan gerobaknya di sisi lain dari poskamling. Posisi berjualan yang tentu aneh baginya. Tampak pemandangan latarnya menjadi poskamling yang diapit dua gerobak mie ayam. Tak beda dengan Pak Sukir, wajah si pendatang juga seolah bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Saya mulai asyik menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah akan ada kejadian seperti yang saya beberapa kali menyaksikan sebelumnya, kenek bis kota yang berantem berebut penumpang di terminal? Akankah seperti para anggota dewan yang saling pukul di suatu sidang terhormat? Akankah seperti sepasang kekasih yang beradu mulut di satu percekcokan asmara mereka?

Kalau demkian pasti akan seru. Tapi tentu saya tak terlalu berharap pertikaian konyol itu terjadi. Dari balik ruangan berkaca saya masih menunggu. Paling tidak saya menunggu satu interaksi, obrolan, atau mungkin semacam diplomasi di antara keduanya. Saling bertanya-jawab apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tidak. Ternyata yang saya tunggu tak kunjung terjadi. Keduanya tak kemudian saling sapa, tak ada sentuhan, tak ada kata-kata. Cold and flat. Keduanya seolah-olah sedang menyuguhkan monolog ala Charlie Chaplin pada naskah dan panggung teaternya masing-masing. Namun pada posisi saya, mereka adalah dua aktor yang beradu peran pada satu naskah, satu panggung pantomim.

Di kursi penonton, saya akhirnya hanya bisa tersenyum-senyum sendirian. Mulai memunculkan prediksi baru. ‘Sepertinya tak akan lama pertunjukan ini, 13 menit paling juga sudah mentok’, pikir saya. Saya mulai fokus dengan timer di dinding. Sepanjang detik saya mulai berhitung, tak satupun pembeli yang berani mendekat dan membeli. Saya semakin yakin pertunjukan ini tak akan lama.

Saaaphh…!! Benar saja. Belum sampai menginjak menit ke-10, si pendatang memilih-putuskan mudur teratur. Sepertinya, dia sudah selesai dengan perannya di chapter ini, mengemasi gerobak dan segala perlengkapannya, lalu cauuu..!! Setelah tak lagi nampak di pengkolan, gerobak lama pun sudah sangat paham untuk segera berpindah panggung.

Pertunjukan usai. Saya sebagai penonton pun harus puas dengan membawa satu perenungan. Bisa jadi ini salah satu ilustrasi bahwa tak semua permasalahan harus selesai dengan dialog nan berbusa-basa dan berbasa-basi. Cukup meniru Charlie Chaplin. Mengunci mulut, lalu melakukan apa yang perlu dilakukan, termasuk pergi meninggalkannya.

Tak begitu lama, pelanggan Mie Ayam Pak Sukir pun berdatangan. Entah gerobak asing. Namun semoga sedang menemukan pelanggannya sendiri, di panggung lain. []

Anda punya gagasan, pengalaman, inspirasi kreatif, atau opini tentang apa saja?
Bagikan kepada pembaca vanbumen.com. Redaksi akan memuatnya dalam rubrik Celoteh.
Tulis dan kirimkan ke email: redaksi@vanbumen.com.

Please rate this

Categories:   Hiburan, Umum

Comments on Diam Itu Seperti Charlie Chaplin