VanBumen Explore

“Star” yang Kini Redup: Memimpi Bioskop di Kebumen

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

# Celoteh, oleh King Aziez

Ada yang tidak tahu kalau Kebumen punya bioskop?

Jika Anda kebetulan dari arah Tugu Lawet, melintas ke timur melalui Jalan A. Yani hingga terminal lama – sekarang menjadi Taman Sarbini, arahkan pandangan Anda ke sebelah kiri jalan. Disitulah berdiri bioskopnya Kota Kebumen.

Ha… ha… ha… Tapi itu dulu.

Dari lokasi tersebut, dahulu sempat kondang satu aktifitas bisnis bioskop bernama ‘Bioskop Star Kebumen’. Bioskop kebanggan masyarakat Kebumen. Namun jangan kaget, jika Anda menengok ke sana sekarang, yang akan Anda temukan hanyalah onggokkan gedung tua yang sudah tidak terawat lagi.

Sebagai pembuka, saya tularkan satu risalah, dari sumber yang sangat saya percaya kesaksiannya. Jejaka petualang yang kini tak lagi  muda, tak lagi jejaka. Pak Lik saya. Ha… ha… ha…

Dulu, di pusat kota Kebumen, berdiri dua bioskop besar. Pertama adalah Bioskop Star. Kapan berdirinya, saya belum menemukan infonya. Lokasi Bioskop Star yang saya sebut di atas sebenarnya adalah lokasi baru, lokasi kedua. Awalnya berada tepat di sebelah Timur Tugu Lawet. Sekarang di sana berdiri satu kantor bank swasta. Ada kabar, sepertiga bagian bangunan lama bioskop, dipakai guna berdirinya kantor ini.

Sekitar tahun 1977, bioskop tersebut tutup, entah sebab apa. Salah satu isu yang santer di masyarakat adalah sengketa tanah di mana gedung bioskop berdiri.

Baru pada 1978, Bioskop Star beroperasi lagi, namun harus pindah gedung di lokasi baru. Sejak itulah, muncul istilah ‘Star Bodol’ untuk menyebut lokasi gedung lama Bioskop Star.

Satu bioskop lain adalah ‘Bioskop Gembira’, berlokasi di sebelah timur RSUD Kebumen, atau di sebelah utara MAN 2 Kebumen. Sementara di lokasi tersebut sekarang sudah dibangun gedung olahraga dengan bangunan yang sama sekali baru dan megah. Bioskop ini bubar pasar lebih dulu dibanding Bioskop Star.

Konon, Bioskop Gembira lebih banyak memutar film-film Indonesia, film kolosal misalnya. Sedangkan Bioskop Star didominasi film-film barat. Setiap akhir pekan ada semacam midnight show, dalam sehari ada tiga hingga empat kali pemutaran film. Walaupun seiring waktu, karena makin berkurang pengunjung, hanya ada dua kali tayang film per hari.

dari ilustrasi singkat tersebut, pasar hiburan bioskop di Kebumen bisa dikatakan mapan kala itu. Permintaan bersambut baik dengan penawarannya. Ini memastikan kebutuhan masyarakat akan jenis hiburan, khususnya film, benar-benar dimanjakan pengelola bioskop. Paling tidak bagi masyarakat di kota kabupaten. Sementara pada masyarakat pelosok, sepertinya masih bisa terwakili oleh teknologi ‘layar tancap’ yang juga sedang marak.

Belum lagi jika mengingat satu kondisi, di mana pesawat televisi sebagai salah satu sarana hiburan masih merupakan barang mewah. Tidak seperti sekarang, setiap rumah bisa dipastikan mempunyai satu pesawat televisi. Maka lumrah jika keberadaan bioskop menjadi andalan, diburu sebagai alternatif utama hiburan masyarakat Kebumen.

Bioskop Star, My First Experience

Betapa saya masih ingat, pertama kali seumur hidup saya nonton film di bioskop ya di Bioskop Star ini. Waktu itu saya masih SD. Bapak saya yang mengajak nonton, ‘Tutur Tinular’ judul filmnya. Singkat cerita, meski saya seumur itu tidak terlalu berkepntingan dengan alur cerita filmnya, yang terpenting ada adegan berkelahi, dan pastinya seru.

Ketika itu bioskop penuh sesak, Kami pun hanya kebagian duduk di belakang. Jangan bayangkan seperti bioskop jaman sekarang. Waktu itu saya merasa tidak jauh beda dengan nonton layar tancap, hanya saja ini di dalam ruangan dan lebih nyaman bisa duduk di kursi. Tapi sungguh, pengalaman ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Film-film tenar, sebut saja yang dibintangi Silverster Stallone seperti film ‘Rambo’ dan ‘Cobra’ pernah tayang di sana. Di antara film-film Indonesia, yang saya paling ingat adalah film ‘G 30 S PKI’.

Dari mana saya tahu? Dulu, setiap akan ada pemutaran film, bisa dipastikan selalu ada satu pemandangan, di mana satu mobil bak terbuka berkeliling kota, bahkan ke pelosok,-pelosok desa, mempromosikan ke masyarakat film-film yang hendak diputar. Dari mobil itu disebar pamflet berisi jadwal pemutaran film. Tak cukup dengan itu, di sekujur badan mobil dipasang poster-poster film berukuran besar sebagai pemikat.

Satu lagi yang unik, di atas mobil ditempatkan speaker yang sepanjang jalan terdengar berisik suara orang membacakan jadwal putar film berulang-ulang. Kalau Anda pernah mendapati mobil pedagang jamu di pasar-pasar tradisional, dengan suara ‘pemikat’ penjualnya melalui pengeras suara, ya, persis semacam itu pemandangannya. Strategi pemasaran yang efektif tentu pada masanya.

Benar tentu. Masih bisa terdengar di tengah-tengah obrolan, sebagian orang di sudut-sudut kampung membahas jadwal tayang film di Bioskop Star. Menyusun rencana kapan akan menyambangi bioskop guna berhibur dan menghabiskan libur akhir pekan.

Membedah jalan cerita satu-dua film. Saling memberi rekomendasi film apa saja yang perlu dan tidak harus ditonton, karena memang tidak jarang film sudah berulang-ulang diputar. Dan seterusnya.

Bioskop Star begitu berdaya hidup, menyusup di antara hiruk-pikuk keseharian masyarakat. Menjadi spot rujukan masyarakat dalam berburu film.

Bioskop Star. Ya. Bioskop bintang bagi masyarakat Kebumen. Setidaknya masih sempat saya rasakan kebintangannya saat itu.

Bintang Redup

Beranjak ke masa saya SMP. Agak lain ceritanya. Bioskop Star tidak lagi seramai ketika saya SD. Entah karena alasan ini atau bukan, lorong pintu masuk di lantai bawah gedung disulap menjadi pusat permainan ‘ding dong’. Waktu itu, ding dongjuga satu alternatif hiburan yang populer bagi anak-anak selepas jam sekolah, bahkan orang dewasa.

Selain itu, saya mendapati film-film yang diputar di Bioskop Star lebih didominasi film-film out of date dan berbau mesum, baik itu film Indonesia maupun film barat. Dari sisi film lokal, sebenarnya hal itu tidak bisa dihindari. Pada waktu itu, perfilman Indonesia praktis dibanjiri produksi film-film berbumbu buka-bukaan. Bahkan film Warkop DKI yang notabene bergenre komedi. Walaupun, sepanjang pengetahuan saya, film Warkop DKI ini belum pernah ditayangkan di bioskop ini. Sepertinya, ongkos penayangan film legendaris ini relatif mahal dibanding film-film lain. Menayangkan film-film barat juga sepertinya lagi-lagi terbentur ongkos tayang. Diputarlah lagi-lagi film out of date.

Kendala bisnis Bioskop Star tidak berhenti di sini. Bersaing dengan hadirnya ‘cakram CD’ tak dapat terelakkan. Belum lagi tempat-tempat penyewaan VCD/DVD film yang kemudian bermunculan. Masyarakat semakin mudah mendapatkan film dengan lebih banyak pilihan judul untuk menontonnya langsung di rumah. Bioskop berumur puluhan tahun ini pun makin tak bisa diandalkan. Pada situsi ini, aktifitas bisnis Bioskop Star perlahan menuju ‘bangkrut’. Seirama waktu, di ingatan masyarakat bioskop inipun meredup – untuk tidak menyebutnya ‘mati’.

Dahaga Pencinta Film Kebumen

Anda tentu masih ingat booming film Ada Apa Dengan Cinta? Film tersebut rilis ketika saya SMA. Konon, iklim perfilman Indonesia yang sebelumnya lesu mulai bangkit ditandai lahirnya film ini. Ya. Hingar-bingar film drama percintaan inipun terasa sampai ke Kebumen.

Agak mengejutkan, Bioskop Star menayangkan film tersebut. Hebat. Walaupun yang terjadi adalah film ini tayang di kebumen setelah tidak lagi booming, alias sudah tidak diputar di bioskop-bioskop kota besar.

Tapi tunggu dulu. Ternyata antusias kawula muda Kebumen begitu besar terhadap film ini. Tentu ini dimaklumi, pasalnya mereka jauh-jauh hari sudah mendengar kabar heboh film yang digandrungi remaja Indonesia ini dari televisi.

Saking hebohnya, sementara rasa penasaran yang muncul tidak kemudian tersalur dengan menontonnya secara langsung di Kebumen. Kecuali ada sebagian masyarakat yang bersikeras berburu ke luar kota di mana berdiri bioskop-bioskop modern. Kota terdekat adalah Purwokerto dan Yogyakarata.

Selama beberapa hari Bioskop Star penuh sesak oleh kawula muda Kebumen. Kalau mau ditelisik lebih jauh, motivasi mereka tentu bisa beragam. Mungkin agar dibilang gaul – tidak ketinggalan dengan teman lain yang menonton. Atau memang benar-benar mereka menyukai film dan haus menonton film di bioskop. Bisa juga karena penasaran dengan Bioskop Star sendiri yang waktu itu sudah lama tidak memutar film.

Saya sempat memprediksi bahwa inilah titik balik kejayaan Bioskop Star. Situasi ini bisa dibaca sebagai isyarat sederhana bahwa keberadaan gedung bioskop itu sebenarnya dirindukan di Kebumen. Lebih jauh lagi, bahwa bisnis bioskop mempunyai pasar potensial yang besar di Kebumen, terutama kawula muda. Tentu yang mereka harapakan adalah satu bioskop representatif dengan manajemen yang lebih modern, sehingga minimal bisa konsisten menghadirkan film-film yang up to date dan bermutu.

Kebumen, Kota Tanpa Bioskop

Kenyataan berbicara lain. Atau mungkin prediksi saya yang terlalu buru-buru? Ketika masa kuliah, saya mendapati gedung bioskop itu tak lebih hanya bangunan tua mangkrak tanpa guna. Konon kabarnya, gedung tersebut dijual dengan harga tinggi untuk kemudian dihancurkan dan dibangun pusat perbelanjaan. Jika benar demikian, selesai riwayat Bioskop Star.

Sayang sekali, bioskop kebanggan kota Kebumen ini harus menyerah pada jaman baru. Tak kunjung berbenah. Tak kunjung menyesuaikan pengelolaan bioskop dengan lebih modern, memenuhi kebutuhan masyarakat Kebumen akan hiburan film yang up to date dan bermutu. Situasi ini tentu menjadi pelengkap ‘tragedi’ bangkrutnya bioskop-bioskop lain di wilayah Kebumen. Ada Bioskop Gembira tentunya, juga jauh hari sebelumnya telah menimpa bioskop di Karanganyar dan Gombong.

Maka akan sempurna jargonnya, “Kebumen, kota tanpa bioskop.”

Sampai kapan jargon ini akan mengganggu saya? Mungkin juga Anda. Entahlah. Akankah nama besar Bioskop Star lahir kembali dengan perwajahan baru suatu saat nanti? Adakah putra daerah yang punya perhatian khusus dengan situasi ini? Syukur-syukur bersedia berinvestasi dan membangun kembali gedung bioskop di Kebumen. Atau harus menunggu pemodal dari luar daerah?

Lalu, di mana posisi pemerintah sejauh ini? Bukankan pemerintah seharusnya punya keterkaitan?

Atau mungkin dari Anda pembaca, yang akan ambil bagian membidani lahirnya satu bioskop modern di Kebumen? Bioskop yang bisa memuaskan dahaga para pencinta film di Kebumen. Semoga.

Jika saya tidak sedang bermimpi, memang seharusnya tidak sesederhana itu pertanyaannya.

… Tapi saya terlanjur dijebak Pak Lik saya di mesin waktu.
Tiba-tiba dimunculkan di depan gedung besar, bioskop ternyata.
Di suatu nuansa kota lampau.
Di mana ada dua saja yang dominan, hitam dan putih.
Namun menggairahkan.
Kebumen, 40-an tahun yang lalu.

[an]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Categories:   Hiburan, Sejarah

Comments

  • Posted: 29 March 2015 20:03

    ryan

    saya yang asli dari kebumen saja. membaca artikel tersebut agak sedih karena apa saya gak nyangka kebumen mempunyai bioskop ..yg sekarang hanyalah tinggal gedung tua
  • Posted: 13 February 2015 14:13

    Iwan Putranto (iwan bhe)

    Sumpah demi Tuhan mbrebes mili mbaca artikel ini.
  • Posted: 12 September 2014 15:11

    Anonymous

    Setelah membaca artikel di atas saya prihatin tentang keberadaan bioskop star, gimana tidak pada waktu jayanya kebetulan sekolah saya berdampingan dengan bioskop star.
  • Posted: 10 December 2012 16:06

    ajun

    Saya asli orang Kebumen dan sekarang kuliah di Malang Jawatimur. Melihat curhatan panjenengan memang sangat dramatis..hehhe Aku pun setuju , tetapi bioskop itu harus film yang memiliki nasionalisme terhadap bangsanya sendiri soalnya anak muda sekarang haduh entah mau dibawa kemana negeri ini...