VanBumen Explore

Menu

Wayang Golek Kebumen Diminati Suriname

Tak banyak orang Kebumen yang mempunyai kemampuan membuat wayang golek. Dari yang sedikit itu, terdapat nama Rusiyanto (61).Warga RT 03 RW 03 Desa Tlogodepok, Kecamatan Mirit, telah menekuni pembuatan wayang dari bahan kayu tersebut sejak tahun 1976. Hebatnya, wayang hasil karya asli Kebumen tersebut telah merambah luar negeri.

Selain sudah banyak yang dikirim ke negara Jepang, wayang hasil karya Rusiyanto kini tengah dilirik warga Suriname di negara Belanda.

Rusiyanto menjelaskan, kemampuannya membuat wayang golek diperoleh secara turun temurun dari ayahnya.

Dia adalah pembuat sekaligus dalang wayang golek menak kondang pada zamannya, yakni Sindu Jotaryono. Seperti pepatah, buah tak jauh dari pohon, Rusiyanto menuruni semua kemampuan ayahnya.

Di sela-sela kesibukannya mendalang, suami Sulyati (55) tersebut menekuni serius pembuatan wayang golek sejak tahun 1976, saat dia berusia 25 tahun.

Pekerjaan tersebut ditekuninya di sela-sela waktunya saat tidak sibuk mendalang. Apalagi tawaran manggung sebagai dalang tidak datang setiap hari.

Usaha membuat wayang golek akhirnya menjadi profesi utamanya. Di Kebumen sendiri hanya ada 6 orang yang dikaruniai kemampuan membuat wayang golek. “Saya ‘mbuat’ wayang karena terdesak kebutuhan,” ujar pria yang juga sepupu dalang kondang asal Kebumen, Ki Basuki Hendroprayitno tersebut merendah.

Untuk satu buah wayang siap pakai, Rusiyanto butuh waktu sekitar 5 hari. Wayang golek menak dibuat dari kayu jenis jaranan untuk bagian kepala. Sementara, untuk bagian badan cukup menggunakan kayu albasia. Termasuk untuk kelengkapan aksesori berupa kostum, Rusiyanto membuatnya dengan tangannya sendiri.

Dia menggunakan dua buah pisau kecil untuk mengukir setiap detail wajah setiap tokoh wayang yang dibuatnya.

Hebatnya, dia hanya mengandalkan daya imajinasi serta ingatannya untuk membuat sebuah karakter wayang. Untuk diketahui, setiap pementasan wayang golek menak dibutuhkan 70 karakter wayang yang berbeda. “Kalau sudah ada 70 wayang, pentas bisa jalan,” ujar ayah dua puteri ini.

Awalnya, wayang buatan Rusiyanto rutin dikirim ke Jogjkarta. Namun sejak peristiwa bom Bali I meletus, pesanan wayang golek terhenti total.

Setelah itu, Rusiyanto hanya mengerjakan wayang berdasarkan pesanan. Ya, rupanya peminat wayang golek menak Rusiyanto kebanyakan berasal dari luar negeri.

Sudah tak terhitung wayangnya yang dibawa ke Jepang dan Belanda. Saat ini, ia tengah mengerjakan pesanan wayang dari Negara Suriname, yang memesan satu set wayang. “Ini sedang negosiasi masalah harga,” katanya.

Mengenai harga, Rusiyanto mengatakan, bervariasi tergantung dari ukuran. Semakin besar ukurannya, maka harganya juga makin mahal. Yakni berkisar antara Rp 200-300 ribu perwayang. Namun dibalik larisnya wayang buatannya, Rusiyanto mengaku cukup perihatin dengan nasib dalang wayang golek, yang tak selaris wayangnya. Bahkan, Rusiyanto merasakan sendiri hal tersebut.

Dia mengaku tawaran mementaskan wayang golek semakin sepi dari hari ke hari. Sudah tentu, profesi dalang wayang golek tak bisa lagi seperti masa keemasannya di tahun 1970. Kini profesi dalang apalagi dalang wayang golek, tak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. “Sekarang wayang golek hanya masuk museum dan hiasan di rumah. Tidak lagi banyak tampil di pentas,” ujarnya.

Keprihatinan tersebut, diwujudkan Rusiyanto dengan menyusun naskah lakon babad Menak. Tulisan sederhana tersebut dimaksudkan untuk pedoman bagi mereka yang ingin mengetahui cerita wayang golek menak.

Yang cukup merisaukan, tulisan yang bisa menjadi dokumen penting wayang menak tersebut telah dibeli oleh seorang peminat wayang golek menak di Jakarta. Sementara, Dinas Pariwisata Kebumen sendiri terkesan enggan ngrumati kesenian wayang golek. “Akhirnya, fotokopian naskah wayang golek menak dibagi-bagikan kepada anak-anak sekolah yang membutuhkan,” ujarnya yang mengaku khawatir, kesenian wayang golek menak akan hilang tergerus jaman.

Dia mengungkapkan, wayang buatannya berbeda dengan wayang golek yang konon merupakan kesenian asal Jawa Barat tersebut. “Untuk membedakan dengan wayang golek dari Jawa Barat, orang menyebut buatan saya dengan wayang golek menak,” katanya, Jumat (4/5).

Sebutan menak, jelasnya, disesuaikan dengan nama sejumlah tokohnya yang diawali dengan kata Menak atau boleh diartikan bangsawan. “Bedanya lagi, wayang golek di Jawa Barat mengadaptasi cerita dari babad Ramayana dan Mahabarata,. Namun, wayang golek menak mempunyai lakon sendiri, mengambil latar belakang perjuangan Nabi Ibrahim menyebarkan agama Islam,” terang Rusiyanto, yang juga seorang dalang wayang golek menak tersebut.(cah/din)

# Posting Rintisan, dimuat ulang dari Radar Banyumas

Please rate this

Categories:   Kebumen

Comments on Wayang Golek Kebumen Diminati Suriname