VanBumen Explore

Penalaran Singkat akan Pemakaian Jilbab

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sebuah penalaran singkat akan pemakaian “jilbab”.

Tulisan saya kali ini akan mengulas sedikit tentang “jilbab”. Akhir-akhir ini, banyak sekali perempuan yang tiba-tiba memakai “jilbab”, tentunya dengan berbagai alas an. Misalnya, ada mahasiswi yang memakai “jilbab”, dikarenakan ia kuliah disebuah Universitas yang mewajibkan bagi mahasiswi untuk mengenakan “jilbab”. Jadi dia hanya ber”jilbab” hanya saat kuliah, setelah kuliah dilepas lagi “jilbab”nya. Ada juga yang mengenakan “jilbab” dengan alasan ingin jadi muslimah yang benar, karena menurutnya “wajib bagi setiap mislimah dewasa untuk mengenakan “jilbab” sebagai penutup aurat”. Namun ada juga yang sekedar ikut-ikutan.

Menurut sejarah mengenai istilahnya, istilah “jilbab” di Indonesia baru poluler pada awal 1980-an, yang diawali oleh para mahasiswi non-AINI serta sekolah-sekolah menengah non-pesantren. Sedangkan sebelumnya, pakaian penutup kepala ini lebih tenar dengan sebutan “kerudung” yang hanya berupa kain agak lebar dan berfungsi sebagai penutup bagian kepala beserta leher selain wajah. Sedangkan istilah “jilbab” pada masa Nabi Muhammad Saw diartikan sebagai sebuah pakaian luar yang menutupi segenap anggota badan dari kepala hingga kaki, layaknya mukena yang digunakan untuk menjelankan ibadah sholat bagi kaum perempuan.

Jika kita lihat sekilas makna “jilbab” yang terungkap sangatlah berbeda dan sudah mengalami penyempitan atau bahkan peralihan makna secara istilah.

Sedangkan manurut bahasa, kata “jilbab” adalah bahasa Arab yang berasal dari kata kerja jalaba dan bermakna “menutup sesuatu dengan sesuatu lain sehingga tidak dapat dilihat”. Menururt Muhammad Said Al-Asymawi, mantan Hakim Agung Mesir, menyimpulkan bahwa “jilbab” adalah gaun longgar yang menutupi sekujur tubuh perempuan. “jilbab” dalam Islam sangat erat kaitannya dengan aurat dan soal hijab.

Menrut Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 59, mentatakan: Wahai Nabi, katakanlah pada istrimu dan anak-anak prempuanmu, serta para perempuan mukmin agar mereka mengulurkan “jilbab”nya. Sebab yang demikian itu akan membuat mereka lebih mudah dikenal sehingg terhindar dari perlakuan tidak sopan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Para ulama sepakat kalau ayat tersebut diturunkan karena untuk merespons tradisi perempuan Arab yang terbiasa membiarkan kepala mereka terbuka seperti budak perempuan, membuang hajat dipadang pasir terbuka karena belum ada toilet yang diikuti oleh para perempuan beriman yang kemudian diganggu oleh kelompok laki-laki jahat yang mengira mereka adalah budak. Kemudian mereka mengadu kepada Nabi Saw, dan turunlah ayat tersebut. Dapat anda lihat bahwa pemakaian “jilbab” bertujuan supaya identitas mereka bisa dikenali dan dan terhindar dari perlakuan yang tidak sopan.

Banyak ayat Al-Quran yang menyinggung soal “jilbab” seperti dalam surat Al-Ahzab ayat 32,33, dan 53, serta An-Nur ayat 30,31, dan 60. Adapun hadits yang banyak dijadikan rujukan adalah hadits riwayat ‘Aisyah dan Ab8u Daud yang tergolong hadits ahad dan tidak bisa dijadikan sebagai landasan hukum.

Apabila teks-teks tersebut dipahami dalam konteks sekarang, terlihat bahwa perempuan tidak perlu lagi mengenakan “jilbab”, karena sudah tidak ada lagi perbudakan dan hamper setiap rumah sudah disertau toilet. Akan tetapi jangan disimpulkan semudah itu, dari awal sudah dibahas bahwa hal ini sangat berkaitan dengan yang namanya aurat dan hijab.

Menurut beberapa kitab yang dijadikan pegangan oleh beberapa ulama fiqih menyimpulkan bahwa batas aurat pada tubuh perempuan adalah seluruh bagian tibuh kecuali wajah dan telapak tangan. Akan tetapi jika dikaitkan dengan hijab, pandangan beberapa ulama dapat dikelompokkan kedalam tiga pola. Pertaama, perempuan dewasa wajib menutupi seluruh tubuhnya, termasuk wajah dan tangan, bahkan juga mata. Kedua, perempuan dewesa wajib menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Ketiga, wanita dewasa wajib menutup semua bagian tubuhnya selain wajah dan telapak tangan hanya ketika menjalankan ibadah salat dan thawaf, setelah itu perempuan boleh memilih pakaian yang disukainya, sesuai adab kesopanan yang berlaku dimasyarakat (rambut bukanlah aurat bagi kelompok ini).

Yang pasti beberapa pendapat diatas adalah hsil dari ijtihad yang telah dilakukan oleh beberapa ulama yang disertai dengan dalil yang mereka yakini benar. Sebagai hasil ijtihad, pandangan itu bisa salah, juga bisa benar. Sudah menjadi batasan kalau hasil dari ijtihad tidak bisa diakui kebenarannya secara mutlak. Berkaitan dengan hal ini, perlu dikemukakan kesimpulan dari Forum Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah tahun 1988, yang berisi: hukum islam tidak menunjukkan batasan aurat yang wajib ditutupi, tetapi menyerahkan hal itu kepada masing-masing orang sesuai situasi, kondisi, dan kebutuhan.

Jika demeikian bisa dikatakan bahwa menggunakan “jilbab” bukan keharusan bagi perempuan Islam, tetapi bisa dianggap sebagai cerminan akan kehati-hatian dalam melaksanakan tuntunan Islam. Akhirnya, dibangkitkannya sikap apresiasi terhadap perempuan yang dengan kerelaannya sendiri untuk mengenakan “jilbab” menjadi perlu, sebaliknya juga menghargai wanita atas pilihannya untuk tidak mengenakan “jilbab” atau bahkan melepas dan membuka kembali “jilbab”nya.

Pemahaman tentang mengenakan atau tidak mengenakan “jilbab” hendaknya dilandasi dan diawali dengan memahami tauhid sebagai inti ajaran Islam. Sehingga bukan hanya kepala yang mengenakan “jilbab”, tetapi hati serta pikirannya juga ber”jilbab”. Karena ajaran tauhid mengajarkan kepada kita bagaimana berketuhanan yang benar, serta membimbing manusia bagaimana berkemanusiaan dengan benar. Sehingga muncullah pengakuan akan kesetaraan manusia dihadapan Tuhannnya dan keharusan menghormati sesamanya tanpa melihat jenis kelamin, gender ras suku bangsa,  dan bahkan agama.

Akan tetapi bukan tidak boleh kita mengenakan “jilbab” sebelumnya karena hal itu, bagi yang bener-benar mengetahui pemaknaan akan fungsi dan tujuan dari pengenaan “jilbab”, SESEORANG AKAN TERUS BERUSAHA MEMPERTEGUH KEIMANANNYA SEBAGAI BUKTI AKAN KE-ISLAMANNYA DAN PEMBUKTIAN BAHWA BUKAN HANYA KEPALA YANG BER”JILBAB”, TETAPI HATI DAN PIKIRANNYA JUGA TERLINDUNGI.

By: Ata

Yoyakarta, 17 Februari 2013

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Categories:   Gaya Hidup

Comments