VanBumen Explore

‘Pangling’ Pantai Suwuk, Lebaran yang Lalu

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Pesona Baru Wisata Pantai Kebumen

# Catatan Wisata, oleh: King Aziez

Suatu pagi, sekitar hari keempat Idul Fitri 2012 lalu, Om saya dari Bogor mengajak jalan-jalan ke Pantai Suwuk. Lain dari biasanya, di mana kebanyakan pemudik selalu punya rencana wajib selama libur lebaran untuk mengunjungi pantai paling legendaris di Kebumen, Pantai Petanahan. Ini sudah jadi tradisi tentunya di Kebumen, hingga lahir satu pameo “Jika belum ke Pantai Petanahan, belum lebaran namanya”. Ha… ha… ha… Tapi kali ini Pantai Suwuk tujuannya. Hmmm… Okelah. Saya mengiyakan ajakan itu, kami pun berangkat bersama keluarga. Sekalian, saya juga ingin melihat perkembangan terkini Pantai Suwuk seperti apa, katanya sedang digadang-gadang menjadi idola baru pariwisata di Kabupaten Kebumen.

Dalam perjalanan, seingat saya saat itu sudah melewati wilayah Kecamatan Petanahan, memasuki Kecamatan Puring, tiba-tiba saja saya merasa asing. Asing?  Ya, bagaimana tidak? Banyak kemajuan tergambar di sana, berbeda jauh daripada sebelumnya. Rasa kagum muncul, satu daerah yang taruhlah berjarak begitu jauh dari kota kabupaten, namun pembangunannnya terjadi begitu pesat. Satu misal saja, kondisi jalan yang saya lewati saat itu. Badan jalan yang sebelumnya masih beraspal kasar dan di beberapa titik rusak, saya mendapatinya sudah diaspal hotmix. Muluss… Di beberapa kilometer bahkan sudah dilebarkan. Bisa jadi, ini satu sinyalemen bahwa Pemerintah Kabupaten Kebumen tidak main-main menjadikan kawasan wisata Pantai Suwuk sebagai magnet baru pariwisata Kebumen, khususnya wisata pantai. Wahh… Semakin penasaran saja, ingin cepat-cepat sampai di lokasi.

Beberapa saat kemudian, sampai juga kami di pintu masuk kawasan wisata Pantai Suwuk.  Benar, rasa penasaran berangsur terbayar. Saya disambut satu pintu gerbang yang dibangun megah memanjang. Wajah baru kawasan wisata Pantai Suwuk mulai terasa dari sini. Menuju lokasi parkir, meski belum diaspal atau di-paving blok, kendaraan sudah tertata rapi. Terlihat beberapa  petugas Satpol PP yang mengatur parkir, selain tentunya siaga menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung dalam berwisata. Selain itu, sudah tersedia juga toilet dan kamar mandi yang cukup memadai untuk mandi bilas pegunjung selesai mandi air laut.

Oke… Saatnya menghambur kepantai. Woww… Pantainya cukup bersih, aman buat saya berlarian di pasir pantai bertelanjang kaki. Karena masih pagi kali ya, tanpa terhalang keramaian orang, sejauh mata memandang, terhampar laut biru dan bukit Karang Bolong yang indah, sempurna. Yah, Pantai Suwuk memang berdekatan dengan Pantai Karang Bolong, salah satu wisata pantai unggulan Kebumen lainnya. Butuh sebentar saja, mata saya berhasil menyapu seluruh view di sana. Dilihat dari penataan ruang kawasan pantai ini, saya bertanya-tanya, sepertinya pengunjung sengaja digiring untuk menikmati pantai ke arah barat. Tapi kenapa yaa kira-kira?

Sepanjang pinggiran pantai, terlihat banyak pedagang yang meramaikan suasana. Satu yang menarik perhatian saya adalah penjual telur goreng yang digulung menggunakan semacam bambu untuk penjepit. Ha… ha… ha… Agak panjang yaa saya menyebut jenis makanan ini. Sepertinya saya terpukau waktu itu. Terpukau dengan proses memasaknya yang unik , hingga menanyakan nama makanannya saja sampai lupa. Bayangkan saja, telur yang telah dibumbui, kemudian digoreng, dan ketika sudah hampir matang digulung dengan bambu yang dibelah dua untuk menjepit telur tersebut. Unik. Rasanya juga oke. Ternyata ada kuliner yang menarik juga di pantai ini.

Belum selesai menikmati gurihnya kuliner tersebut, saya disuguhi kejadian mencekam. Dari kejauhan, terliha dua pria terseret ombak saat mandi di pantai. Sontak  pemandangan ini mengundang kepanikan pengunjung. Saya ikut panik. Untung hanya beberapa saat , hingga mereka berhasil menyelamatkan diri. Menyelamatkan diri? Ya, menyelamatkan diri. Bukan diselamatkan oleh Tim SAR atau semacam baywatch. Ha… ha… ha…

Suwuk Beach - VanBumen

Suwuk Beach – VanBumen

Sungguh disayangkan, saat itu tidak ada satupun petugas penyelamat di pantai. Pihak pengelola memang sudah memasang larangan agar pengunjung tidak mandi di pantai. Namun dengan adanya kejadian itu, terbukti bahwa papan larangan saja tidak cukup untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan selama pengunjung menikmati keindahan pantai. Saya kira ini kesalahan fatal, satu objek wisata tidak memiliki Tim SAR yang selalu stand by menjaga keselamatan pengunjung. Ini penting, apalagi Pantai Suwuk sedang dalam pengembangan menjadi kawasan wisata pantai unggulan di Kebumen.

Perjalanan menikmati pantai berlanjutkan ke arah barat. Di sini saya baru menyadari mengapa pengunjung diarahkan ke barat. Ada semacam tanggul tinggi dari tumpukan batu di sana. Ketika saya hampiri dan mendaki ke atasnya, terlihatlah pertemuan antara sungai dengan laut. Muara Sungai Suwuk. Huuu… Luar biasa indah pemandangan yang tersaji waktu itu. Inilah eksotika kesekian yang ditawarkan Pantai Suwuk. Tidak berhenti di situ. Di lokasi ini, tepatnya di pinggiran sungai, ada penyewaan perahu yang akan membawa pengunjung menikmati nuansa lain berwisata, mengarungi pertemuaan arus sungai dan gelombang laut di atas perahu. Wuuuu… menantang. Namun sayang, saya urung mencobanya.

Pemandangan mempesona di sekitar tanggul agak berkurang  begitu saya melihat banyaknya sampah. Sebenarnya hal tersebut bukan mutlak kesalahan pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Saya tidak menemukan juga, tersedianya cukup  tempat sampah oleh pengelola wisata. Seandainya dipasang tempat sampah setiap 5 atau 10 meter misalnya, bisa dimungkinkan aksi  pengunjung buang sampah sembarangan bisa ditekan. Lagi-lagi ini penting, sehingga kebersihan kawasan wisata Pantai Suwuk secara keseluruhan menjadi poin tersendiri  bagi pengunjung.

Dari lokasi tanggul, saya dan keluarga beranjak pulang. Tak terasa sudah siang. Sebelum benar-benar pulang, masih di lokasi pantai, kami tergoda menu lotek dan tempe mendoan khas Pantai Suwuk. Wuiihh… kebayang lezatnya, rugi jika lidah kami melewatkannya. Sembari mengobrol ngalor-ngidul kami menyantap lotek dan mendoan. Nikmat sekali rasanya. Enggan saya beranjak dari sana. Namun apa mau dikata, matahari sudah membubung tinggi, makin menyengat kulit. Pertanda kami harus bergegas pulang.

Langsung pulang? Ha… ha… ha… Tidak. Satu lagi yang tertinggal adalah ritual foto-foto di depan gerbang masuk Pantai Suwuk yang megah itu. Satu spot wajib untuk berfoto ria karena di sana terpampang besar  tulisan “Selamat Datang di Obyek Wisata Alam Pantai Suwuk Kebumen”. Berfoto dengan background tersebut itung-itung sebagi bukti bahwa saya telah menyaksikan sendiri panorama Pantai Suwuk yang indah. Habis persediaan pose saya melayani kamera, berarti habis pula sesi foto-foto. Ha… ha… ha… Kali ini kami benar-benar harus pulang.

Ya… Pantai Suwuk. Laut yang biru, pasir yang bersih, bukit-bukit eksotis, muara, perahu-perahu, serta gerbang yang megah. Lengkap sudah. Dari gerbang megah Pantai Suwuk inilah, semoga menjadi kemegahan yang bukan sekadar simbol. Sekadar penarik perhatian pengunjung, apalagi hanya untuk keperluan berfoto-foto. Lebih dari itu, kemegahan tersebut sejatinya juga menunjukkan profesionalisme para pengelola dalam memberikan perlindungan, keamanan dan kenyamanan para pengunjung. Semangat profesionalisme ini dibutuhkan untuk nantinya Wisata Pantai Suwuk benar-benar menjadi idola pariwisata pantai baik bagi masyarakat Kebumen khususnya, juga masyarakat dari luar Kebumen. [an]

[Sumber foto utama dari kebumenkab.go.id]

Baca juga:
Info Lengkap objek wisata Pantai Suwuk dan objek wisata Kebumen lainnya.

Anda punya pengalaman berwisata ke Pantai Suwuk? Bagikan pengalaman Anda kepada pembaca vanbumen.com. Redaksi akan memuatnya dalam rubrik Bolang. Tulis dan kirimkan ke email: redaksi@vanbumen.com.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Categories:   Wisata

Comments on ‘Pangling’ Pantai Suwuk, Lebaran yang Lalu