VanBumen Explore

 

Pemuda Tolol

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Di sebuah pagi yang ga begitu cerah-cerah amat, ada seorang, yang dengan tega menyebut dirinya sendiri, pemuda, sedang berjalan-jalan menyusuri jalanan di sebuah kompleks perumahan.

Sengaja dia berjalan tanpa alas kaki. Alasannya sich, biar sehat, pijat refleksi gratis. Yaah itung-itung ngurusin badan. Sekalian juga mantengin cewek-cewek komplek yang semlohe bahenol sewo.

Tapi, emang dasar pemuda tolol, mana ada cewek-cewek komplek yang mau di deketin ama orang dengan penampilan gembel plus ga peke alas kaki, pula? Ngimpiiiii….!!! Paling pol kalo pas ngajak kenalan itu cewek-cewek cuman disalamin sambil dia bilang “Wannii¬† Pirroo… ?!”

Benar saja. Setelah beberapa lama berjalan, bertemulah dia dengan dua orang cewek komplek yang lagi jogging. “Waooow…!!!” Cuma itu yang bisa terucap dari mulut sang pemuda. Sisanya, mulutnya cuma di gunain buat bengong, melompong, tapi untungnya ga sampe ngeluarin lendir. karena saking terseponanya eh terpesonanya.

Naluri lelakinya yang tentu saja dikompori semangat oleh nafsu, mendorongnya untuk mengikuti ke mana dua orang cewek itu jogging. Pemuda itu terus mengikuti, terus dan terus. Dan yang keluar dari mulutnya masih kata-kata “Waoooow…!!!” Bukan “astagfirullohhal’adzim” atau sejenisnya.

Setelah beberapa lama, sampailah dia di sebuah perempatan. Kebetulan ada angkot yang lagi bongkar muat penumpang. Nah, salah satunya yang turun adalah seorang bapak-bapak tuna netra.

Bapak tuna netra itu hedak nyebrang mencari posisi jalan, dan sang pemuda pun merapat kepadanya tentu hendak membantu. Dengan perasaan ganteng dan berani, tapi bukan gagah. Otomatis. Dasar sudah dikompori sama nafsu, pikirannya pun terpantik “Ah, lumayan nih pagi-pagi jadi super hero, mumpung ada cewek-cewek yang lagi jogging ngeliatin”.

Disebrangkanlah itu bapak tuna netra oleh sang pemuda ke sebrang jalan. Tapi anehnya ketika si bapak tuna netra tersebut mau diantar ke sebalah kiri jalan layaknya orang-orang pada umumnya, dia menolak, sang bapak tetap saja berjalan di sebelah kanan jalan. Sang pemuda pun tak tega memaksa. Sekaligus tak sampai hati juga untuk “Tannnyaaa kenapaaa?”.

Akhirnya, sang pemuda pun tak tahan bergumam “aah..bodo amat, amat aja ga bodo?? Lagian gue tadi kan udah diliat ama cewek-cewek komplek?”.

Tapi sayangnya, ketika dengan muka begonya sang pemuda menoleh ke arah cewek-cewek yang lagi jogging tadi, ternyata mereka telah menghilang dari jangkauan penglihatan.

Sang pemuda pun bimbang, ragu, bingung, galau, gelisah dan tampak kehilangan arah. Maklum, kan setting lokasinya lg diperempatan.

Dia bingung mau nyari terus kemudian ngekorin cewek-cewek jogging, apa mencari jawaban kenapa orang buta itu berjalannya di sebelah kanan?

Tapi untunglah, nafsu itu telah pergi seiring dengan entah kemana perginya cewek-cewek tadi. Akhirnya dengan penuh rasa penasaran sang pemuda pun mengikuti orang buta itu, tapi dengan berjalan di sebelah kiri.

Mengapa sang pemuda memilih di sebelah kiri? Setalah nafsu pergi, ternyata giliran sombong meliputinya, “Aku kan orang normal, jalan di sebelah kiri aja ah?”.

Lumayan lama sang pemuda mengikuti bapak buta itu berjalan, berpikir menerka-nerka jawaban pertanyaannya sendiri. Kali ini mulutnya diam, tidak mengucap “waooooow…!!!” lagi. Sisanya, mulutnya tetap diam.

Lama berpikir, menanti sebuah jawaban yang tak kunjung datang, tak ketemu juga. Emang dasanya tolol, jadi ya lama berpikirnya. Dia mengamati terus.

Tiba-tiba, sang pemuda melihat sebuah sepeda motor melaju berlawanan arah dengan bapak tuna netra dan secara otomatis si pengendara motor itu pun menghindari sang bapak. Tak sekali saja. Begitu ada kendaraan lewat dengan posisi yang sama, prosedur otomatis serupa terjadi.

“Ahhh…ini dia jawabannya…” gumam si pemuda berpikiran telat itu.

Ternyata. Sang bapak tuna netra dengan cerdik memanfaatkan daya dan sudut pandang orang lain yang berpenglihatan normal. Dengan sudut pandang seperti itu, lajur jalannya sebagai orang tuna netra ternyata lebih aman. Tidak seperti sang pemuda yang dengan tolol lagi sombong hanya berpatok pada istilah NU, Nunut Umum, atau kebiasaan secara umum, Kalau orang bule biasa bilang just follow the crowd.

Sang pemuda semakin menyadari betapa tolol dirinya. Betapa nafsu telah menggiringnya kepada kesia-siaan. Betapa kesombongan telah men-TKO logikanya.

Ketika sang pemuda tolol merenung sambil berjalan, tanpa sadar ia telah mendahuliu si bapak tuna netra tadi. Begitu sudah menyadarinya, dengan muka begonya dia menoleh kebelakang, ternyata si bapak tadi sudah menghilang.

Akhirnya, sang pemuda tolol menggunakan mulutnya secara total dan maksimal, untuk sekedar berucap “Assss***** tenan..!!”. Entah umpatan itu ditujukan kepada siapa.

[an]

Anda punya gagasan, pengalaman, inspirasi kreatif, atau opini tentang apa saja? Bagikan kepada pembaca vanbumen.com. Redaksi akan memuatnya dalam rubrik Celoteh. Tulis dan kirimkan ke email: redaksi@vanbumen.com.

#Celoteh oleh King Aziez

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Categories:   Humor

Comments on Pemuda Tolol