VanBumen Explore

Negeri Ndableg

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Negeri Ndableg? Apa yang terbayang di benak Kamu? Hehehe.. Di bawah ini sekedar kisah.

Suatu ketika, teman saya yang tinggal di luar negeri mampir sebentar ke rumah saya. Saat itu, dia bercerita banyak pengalamannya.

Kami ngobrol kesana kemari, sampai suatu kesempatan, saya iseng-iseng bertanya kepadanya, “Broo, gimana rasanya hidup di negeri orang?”

Lha malah dia njawab, “Negeri orang? Justeru sekarang ini aku yang mampir di negeri orang.”

Sontak saya bingung, “Maksudmu?”

Dia njawab lagi, sambil mesam-mesem, “Heee… saya sekarang sudah pindah dan memutuskan ganti kewarganegaraan.”

Saya benar-benar kaget. “Alasannya apa? Apa kamu sudah tidak cinta lagi dengan Indonesia?” kejar saya.

“Begini… Sejujurnya aku ini orang lemah, tidak sepertimu yang mampu bertahan hidup di negeri seperti ini. Aku pergi jauh dari sini karena tidak tahan menghadapi realitanya. Aku mencoba peruntungan hidup di negeri orang yang masih sanggup menampungku.” terangnya, sembari menepuk-nepuk lembut pundak kanan saya.

Seraya melanjutkan, “Negerimu ini memang dihuni oleh orang-orang kuat, hebat, tahan banting serta tidak cengeng. Mereka mampu bertahan hidup di tengah ketidakpastian negara atau pemerintahan dalam menanggung nasib rakyatnya. Mereka sanggup menghadapi hidup walaupun dalam tekanan berat, dalam kekurangan, dan serba terbatas. Lha coba aja dipikir, masih banyak hutang aja berani kredit motor. Tak ada pekerjaan dan penghasilan tetap berani kawin. Sudah gitu ada yang masih nekad poligami lagi… Hiikkss…”, kami berdua ketawa kecil.

“Hal itu berbeda jauh, tidak seperti yang terjadi di negeri yang aku tinggali sekarang ini.”

“Perlu kamu ketahui, kebanyakan masyarakat di negeriku hidup sebagai saudagar. Hmm… kamu boleh percaya, boleh tidak. Rumahnya Pak Lurah itu, (seraya dia menunjuk arah rumah Pak Lurah di seberang rumah saya) kalau di negeriku itu yaa…  maaf sebelumnya, cuma kelas bawah.”

“Ahh… yang bener?” heranku, tak tahan diam. Saya heran banget, wong rumah Pak Lurah itu sudah paling mewah di kampung saya.

“Di sana, memang lebih banyak masyarakat yang hidup sejahtera. Mereka hidup manja dalam kepastian-kepastian. Bisa dikatakan, mereka tak memerlukan lagi bantuan-bantuan atau campur tangan pemerintah untuk keberlanjutan hidup mereka. Saking sejahteranya, sampai-sampai pemerintah memohon-mohon agar program-program bantuannya dapat diterima masyarakat. Jadi pemerintah kan seolah-olah jadi punya peran. Biar gak malu juga dilihat negara lain,” terangnya.

Saya makin mengernyitkan dahi. Metode obrolan kami berubah, lebih seperti khutbah jum’at. Sementara saya menjadi pendengar penuh khidmad.

“Beneran. Hidup di negeriku itu seolah-olah masyarakat gak butuh negara atau pemerintah kok. Kesejahteraan, membuat mereka gak terlalu tergantung dan peduli lagi dengan keberadaan negara atau pemerintahan. Termasuk gak mau tahu siapa presiden atau pemimpinnya.”

“Untuk jabatan-jabatan semisal presiden, menteri, anggota dewan, dan seterusnya, malah jarang banget ada yang berani nyalon. Alasannya, mereka takut dimintai pertanggungjawaban kelak. Mereka yang nyalon itu pun sebetulnya terpaksa. Kan syarat biar diakui sebagai negara di antaranya harus ada pemerintahan yang berdaulat. Itu saja. Berbeda sekali dengan negerimu ini kan?

Saya hanya puas termangu.

Dia jalan terus, “Sesungguhnya masyarakat di sini ini hebat dalam berinovasi dan berkarya, menciptakan hal-hal baru, meskipun institusi negara gak mau mengakui atau menampungnya. Di luar dugaan dan makin mengherankan, tak jarang karya anak-anak negeri ini justeru diunggulkan dan dibangga-banggakan di negara lain.”

“Tak berlebihan jika aku menyebut masyarakat di negerimu ini tahan banting, tidak cengeng. Tak ada masalah bagi mereka, seandainya negara atau pemerintah bersikap nakal atau curang. Tak ada masalah seandainya kesusahan mereka tak diperhatikan pemimpinnya. Tak ada masalah seandainya pemerintah gagal menyediakan pekerjaan. Tak ada masalah seandainya wakil rakyatnya lebih mementingkan urusan perut partai politik pengusungnya, lebih mementingkan bagaimana agar mereka lebih nyaman duduk di kursi dewan, daripada menjadi jembatan aspirasi bagi rakyatnya.”

“Tak ada masalah sama sekali, sementara jaminan kesejahteraan dari negara masih jauh panggang dari api. Sama-sama tak peduli dengan jalannya negara atau pemerintahan, namun berbeda dengan situasi di negaraku, di mana negara sudah sangat menjamin kesejahteraan rakyatnya.”

“Saya tidak mampu dan pastinya gak bisa tahan dengan hidup seperti itu. Mendingan saya pergi jauh dan hidup di negeri lain yang sangat sportif persaingannya, adil, makmur, dan sejahtera masyarakatnya.”

“Hmm…” saya manggut-manggut, sesaat sebelum saya kemudian hanya menanggapi datar, “Kayaknya asyik banget yaa hidup di negerimu itu.”

“Mbok kapan-kapan saya diajak main ke sana,” pinta saya kemudian.

Alih-alih dijawab, teman saya malah berbalik tanya, “Oh… iya… kok saya lupa nanya, apa tadi, nama negerimu?”

[an]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Categories:   Humor

Comments on Negeri Ndableg